Sabtu, 19 Januari 2013

Analisa 7 hati 7 cinta 7 wanita


Sebuah film yang penuh akan intrik dan konflik yang begitu sukses mengoyak emosi penonton,sarat akan nilai-nilai kemanusiaan serta kaidah-kaidah pokok dalam ilmu kedokteran khususnya kode etik kedokteran  dan hal-hal yang berkhaitan dengannya serta patut untuk diamati,dipetik,dipelajari dan diterapkan,ya 7 hati 7 cinta 7 wanita.
Film yang kental akan perspektif etik,profesionalisme serta humanistic ini memuat kisah tentang sepenggal perjalanan hidup tiga orang dokter spesialis kandungan dengan latar belakang dan karakter yang berbeda-beda. Dokter Anton,seorang dokter spesialis kandungan yang sudah senior di RSUP Fatmawati tetap setia dan cinta akan profesinya yang telah ia geluti selama berpuluh-puluh tahun. Dibalik kulitnya yang keriput dan karakter yang penuh canda,ia tetap teguh menyimpan nama seseorang di dalam hatinya. Ya,dokter Kartini. Teman sejawatnya di tempatnya bekerja pula. Dokter Kartini,dokter yang menjunjung tinggi kode etik kedokteran. Dokter yang tidak pernah kehilangan citranya di mata pasiennya. Dokter yang tidak hanya mampu menangani dengan baik masalah-masalah medis dengan baik tapi juga seorang dokter yang mampu merangkap sebagian konsultan masalah-masalah pribadi yang dialami pasiennya. Saking larutnya dalam maaslah yang dihadapi pasiennya,ia masih tetap bertahan menyimpan maslah yang sampai saat ini entah dimana jalan keluarnya bahkan terlihat begitu menikmati kesendiriannya.
Berbeda dengan dokter Kartini,seorang spesialis obstetric dan ginekologi muda bernama dokter Rohana yang merupakan dokter baru di rumah sakit tersebut begitu menikmati masa mudantya dengan memandang segala hal yang terjadi dari sisi positif. Ia begitu terbuka dengan orang-orang di sekitarnya. Namun tidak semua orang bisa perpendapat begitu,karena bagi teman sejawatnya sendiri yang lebih senior yaitu dokter Kartini,sikap dan jiwa muda yang dimiliki oleh dokter Rohana hanyalah merupakan identitasnya aeorang pemuda yang identik dengan labil. Bahkan dokter Kartini merasa sikap dokter Rohana yang terlalu terbuka serta rasa ingin tahu yang tinggi dapat dengan mudah menyentuh emosi orang lain.
Dengan memandang menggunakan perspektif etik, profesionalisme, humanistic serta interaksi dokter disini maka dapat dengan mudah dipetik pelajaran-pelajaran tentang etika kedokteran yang berlaku dan membandingkannya dengan hal-hal yang mengancam hilangnya penerapan kode etik kedokteran dalam praktek ilmu kedokteran.
Dokter Anton yang telah berpuluh-puluh tahun menjalani profesinya sebagai seorang dokter kali ini dihadapkan dengan seorang ayah yang membawa putrinya yang tengah hamil tujuh bulan dan meminta dokter Anton untuk membantu persalinan dengan jalan sectio cessaria pada waktu yang diinginkannya karena menurut budaya dan kepercayaannya waktu yang dipilihkannya dapat membawa keberuntungan dan kebaikan baginya dan keluarganya. Yang dilakukan oleh dokter Anton adalah dengan tegas menolak permohonan keluarga pasien karena berpegang pada ilmu kedokteran yang telah dipelajarinya,waktu persalinan tidak pas dan dapat mengancam bayi maupun sang ibu itu sendiri. Dilema dialami oleh dokter Anton dengan jelas. Antara aspek etik,apakah cukup etis menolak permintaan pasien yang menginginkan tindakan medis  dengan sikap profesinalisme yang berpatokan pada ilmu kedokteran.
Hal berbeda ditunjukkan oleh rekan sejawatnya,dokter Kartini ketika ayah tersebut akhirnya berpindah dokter karena merasa dokter Anton tidak dapat menyanggupi permintaannya. Ayah dan anak tersebut menemui dokter Kartini dnegan mengajukan hal yang sama,dan yang dilakukan dokter Kartini adalah dengan halus menyanggupi permintaan keluarga pasien untuk melakukan section cessaria sesuai dengan waktu yang diinginkannya. Hal tersebut membawa efek tersendiri bagi keluarga pasien. Keluarga pasien merasa senang konsultasi yang dilakukannya dengan dokter KArtini karena keinginannya dapat terpenuhi. Akan tetapi tidak berhenti disitu karena dokter Kartini mencoba menjelaskan konsekuensi apa yang akan ditanggung apabila dilakukan tindakan medis sesuai dengan permintaan pasien. Disini dokter Kartini menunjukkan kepiawaiannya untuk menyeimbangkan aspek etis yang seharusnya dimiliki oleh seorang dokter berjalan berbarengan dengan sikap profesionalisme yang patut melekat erat  dalam diri masing-masing dokter selama menjalankan profesinya.
Tetapi yang terjadi adalah keluarga pasien tetap ngotot mempertahankan pemilihan waktu yang ia inginkan karena mempunyai kepercayaan yang begitu kuat bahwa hal yang dikhawatirkan akanterjadi,sebaliknya apabila tindakan medis dapat dilakukan sesuai dnegan keinginannya maka aka nada kebaikan dan keberuntungan yang mereka peroleh. Di tengah perdebatan tersebut,tiba-tiba dokter Rohana muncul menengahi masalah tersebut dengan kesanggupan melaksanakan tindakan medis seprti yang diminta oleh keluarga pasien tanpa penjelasan dan persetujuan dari dokter Kartini. Hal yang sangat tidak etis ditunjukkan oleh dokter muda ini. Dari sisi hubungan kesejawatan ia dengan jelas melangkahi kode etik kedokteran tentang kewajiban seorang dokter terhadap teman sejawat. Yang mana hal yang seharusnya dilakukan oleh seorang dokter untuk memenuhi kewajibannya terhadap teman sejawatnya adalah memperlakukan teman sejawat sebagaimana ia ingin dilakukan. Poin selanjutnya tentang kewajiban itu adalah tidak mengambil alih pasien,yang jelas-jelas dilanggar oleh dokter Rohana. Seharusnya dengan penuh etis,dokter Rohana  memberikan penjelasan terlebih dahulu kepada pasien dan juga meminta persetujuan dan konfirmasi kepada dokter Kartini,yang mana secara legal pasien tersebut adalah pasien dokter Kartini.
Dokter Kartini begitu piawainya menunjukkan penerapan hubungan kesejwatan yang baik. Tidak hanya satu poin tersebut dokter Kartini manjadi unggul oleh aspek etik dan profesionalisme yang melekat pada dirinya. Poin plus dimilki pula oleh dokter ini ketika dengan karakternya,ia mengajarkan sisi humanistiknya saat menghadapi begitu banyaknya pasien dari latar belakang yang berbeda-beda.
Nyonya Lili seorang ibu hamil datang berkonsultasi kepada dokter Kartini dengan masalah kekerasan seksual yang mengekor di belakangnya. Diperhadapkan dengan kasus yang seperti itu,dokter Kartini tidak hanya membantu pasiennya dalam hal medis tapi dokter Kartini seolah turut larut dalam masalah yang dialami pasiennya. Bahkan dengan tulusnya ia ingin membantu menyelesaikan masalah pasiennya dengan melaporkan kasus tersebut ke pihak yang berwajib karena baginya telah dengan jelas tejadinya pelanggaran hukum akan tetapi hal tersebut tidak tejadi karena Nyonya Lili tidak menginginkan maslahnya terbawa ke rana hukum karena cintanya pada suaminya. Dan dokter Kartini tetap menghargai privasi dan menjaga rahasia pasiennya.
Sisi humanistic kembali dokter Kartini tunjukkan saat mendapat pasien seorang pekerja seks komersial yang ia diagnose menderita penyakit kanker cerviks. Ia tidak membedakan perlakuannya kepada wanita yang dianggap sampah masyarakat oleh sebagian orang. Ia tetap menjaga interaksinya dengan pasien tersebut walaupun tingkah pasien yang jauh dari kesopanan dan menunjukkan ketidak berpendidikannya. Bahkan ia juga dapat menangani dengan baik ketika seorang siswi SMP yang hamil di luar nikah bernama Rara menjadi pasiennya. Dengan cara berinteraksi yang sepadan dengan cara komunikasi Rara yang kekanak-kanakan,ia tidak kehilangan kendali atas kode etik kedokteran yang dijunjung tinggi. Namun celah lain ditemukan dalam pelayanan saat Rara berkunjung ke rumah sakit tersebut. Yang mana pelayan perawat/tenaga medis yang bertugas saat itu melenceng jauh dari etika karena yang ditunjukkan adalah kata-kata tidak sopan yang seharusnya tidak perlu ditujukan kepada Rara.
Dokter Kartini juga tidak kalah sabarnya dengan pasiennya yang telah lama menunggu kehamilan. Dengan telaten dan senyum penuh makna,ia selalu memberikan penjelasan kepada pasangan suami istri yang tengah mencanangkan program kehamilan ini. Penjelasan ia paparkan dengan sederhana dan dengan mudah dimengerti oleh pasiennya untuk dilaksanakan. Ia bahkan sanggup menjadi seorang teman yang bagi pasiennya,Ratna seorang pekerja tekstil. Banyak hal dan masalah pribadi yang diketahui oleh dokter Kartini. Bahkan tidak jarang mereka menyempatkan waktunya untuk berbagi cerita seusai konsultan atau hubungan antara pasien dan dokter terjadi. Hubungan yang tadinya hanya sebatas pasien dan dokter dapat disulap oleh dokter Kartini menjadi hubungan yang akrab seperti teman dan kerabat.
Banyak karakter yang ditunjukkan dalam film ini. Banyak hal yang dipertontonkan dalam drama ini. Namun,hal yang patut untuk dipetik,dipelajari dan diterapkan adalah bagaimana aspek etis,profesionalisme,interaksi dan humanistic dijalankan oleh seorang dokter bukan sebagai tuntutan melainkan isyarat dari kata hati. Karena bioetik bukan sekedar meneruskan  kebiasaan pendahulu, bukan sekedar pengetahuan dan keterampilan, bukan sekedar sikap, bukan sekedar memenuhi syarat akan tetapi Landasan moral dalam menentukan keputusan, sikap, perilaku dan tindakan untuk kebaikan,  bukan hanya untuk pasien tetapi juga untuk   makhluk hidup dan alam sekitarnya, sekarang dan yang akan datang.

Narasi Observasi Rumah Sakit


Banyak hal-hal yang terjadi dalam dunia kedokteran dan pengembangan ilmu kedokteran yang membuat kita sadar betapa masih penerapan etika kedokteran masih terlampau jauh dari nilai-nilai humanistik. Hal yang menjadi contoh nyata dan bukti atas kebenaran pernyataan di atas adalah banyaknya terjadi praktek malpraktek yang merugikan pihak pasien. Seandainya saja para pemegang profesi kedokteran mau berpegang erat pada aspek humanistic pasti tidak akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan yang kelak akan mencoreng dunia kedokteran.
Sebelum membahas lebih mendalam,humanistic adalah suatu teori yang tertuju pada masalah bagaimana tiap individu dipengaruhi dan dibimbing oleh maksud-maksud pribadi yang mereka hubungkan kepada pengalaman-pengalaman mereka sendiri. Pendapat lain menyatakan bahwa humanistik adalah teori belajar yang menganggap bahwa belajar bertujuan untuk memanusiakan manusia. Dalam teori belajar humanistik, belajar dianggap berhasil jika si pelajar memahami lingkungannya dan dirinya sendiri.
Humanistic menjadi begitu menarik untuk dibahas dalam ilmu kedokteran karena hubungannya yang erat dengan manusia. Dalam prakteknya,dokter adalah salah satu profesi yang berhubungan langsung dengan manusia sebagai pasien. Itulah mengapa seorang dokter perlu memperdalam humanism karena dokter harus mengatahui segala hal yang berkhaitan dengan manusia baik itu sebagai individu yang hidup sendiri dan kodratnya sebagai makhluk social yang membutuhkan orang lain di dalam hidupnya. Yah,seperti kebutuhan manusia terhadap seorang dokter yang mengerti akan kesehatannya yang begitu urgen dalam hidupnya. Namun,kebutuhan manusia akan dokter yang begitu pentingnya tidak serta merta membuat dokter merasa tinggi akan profesi lalu berbuat sekena hatinya saja.
Tuntutan bidang kedokteran yang paling kental dalam humanisme adalah bagaimana dapat menerapkan dengan baik cara memanusiakan manusia. Artinya sang pasien dapat diperlakukan dengan sebaik-baiknya oleh sang dokter sebagaimana seorang manusia memang harus diperlakukan dan seperti bagaimana dokter tersebut ingin diperlakukan pula.
Hal nyata yang ditemukan dalam observasi ke tempat-tempat pelayanan kesehatan adalah tidak semua pelayan medis dalam hal ini dokter berpegang teguh pada prinsip yang yang satu ini. Beberapa dokter tampak melaksanakan kewajibannya sebagai pelayan masyarakat dengan hati tapi lebih dari jumlah itu melaksanakan tugasnya dengan merasa bahwa yang dijalankannya adalah tuntutan. Dituntut akan jumlah pasien yang tidak sedikit mengantri. Dituntut oleh tujuan untuk menyembuhkan pasien. Dituntut akan waktu. Dan dituntut oleh tugas lainnya di luar profesi dokter. Contohnya pelayanan yang terjadi di bagian Unit Gawat Darurat salah satu rumah sakit swasta di Makassar ketika menghadapi pasien. Yang terlihat adalah dokter bekerja sama dengan perawat dapat melakukan penangan pertama dengan baik tapi tetap saja muncul keluhan dari pasien tentang berbagai macam hal. Ruangan Unit Gawat Darurat yang penuh sehingga atas inisiatif dokter dan perawat,pasien tersebut hanya dapat dirawat di luar ruangan. Hal yang begitu miris terjadi begitu saja disini,lalu coba kita balikkan apakah petugas medis yang bertugas menganani dihadapkan dengan kondisi seperti itu atau jika dokter dan perawat tersebut yang berada pada posisi yang dirasakan oleh sang pasien. Apakah mereka sanggup menerimanya?
Mau tidak mau,harus mau. Kesan seperti itu yang mungkin dirasakan oleh pihak pasien sehingga seperti menerima dengan ikhlas tetap melanjutkan perawatannya setelah memilih apakah saya harus sibuk mengkritik proses pelayanan yang ada atau saya harus bersabar untuk kesembuhan saya? Tapi jika hati nuraninya boleh menuntut maka akan dengan tegas ia mengatakan saya tidak diperlakukan layaknya seorang manusia yang punya hati dan perasaan.
Seorang dokter tampak menjadi dewa ketika seorang dari rakyat biasa tidak dapat menkritik system pelayanan dan cara penanganannya karena menurutn para dokter hanya orang dari organisasi profesi kedokteran yang dapat menilai itu sendiri. Maka para dokter tampak dilindungi oleh aturan yang dibuat sendiri. Oleh karena perlindungan tersebut itulah maka dokter merasa tidak perlu mempertimbangkan aspek humanisme dalam prakteknya. Maka tidak mengherankan ketika mendapati begitu banyaknya kasus non humanisme bertebaran yang dilakukan oleh para dokter.
Sebagai makhluk Tuhan, seorang dokter memang mempunyai keterbatasan akan ilmu pengetahuannya. Tapi karena pilihannya untuk menjalani profesi kedokteran maka ia akan mempertanggung jawab akan nyawa seorang manusia maka dengan wajib ia harus memberikan pelayanan terbaik kepada pasien yang datang kepadanya. Selanjutnya keterbatasan yang berubah jadi kesalahan nyata dan dibuktikan oleh pakar-pakar dan pihak yang berwajib itu diputarbalikkan oleh para dokter lain yang mencoba membela rekanm sejawatnya.
Hal – hal yang tidak sesuai inilah yang mencoreng dunia kedokteran tanah air juga mengundang komentar dan penilaian jelek dari kedokteran Negara lain. Tidak hanya dari Negara lain tetapi juga orang-orang berduit di Negara ini yang lebih memilih untuk mendapatkan perawatan medis di luar negeri daripada di negaranya sendiri. Dan ketika mendapati hal tersebut terjadi,dokter-dokter di Indonesia hanya bisa mengeluh. Yang patut dilakukan seharusnya bukan hanya mengeluh tetapi melakukan introspeksi diri dan pembenahan untuk memperbaiki pendekatan humanistic dokter kepada pasien agar lebih baik.
Aspek humanisme begitu penting karena pendekatan dengan pertimbangan humanistic menjadi vital ketika muncul pandangan bahwa dokter yang hebat dan berhasil adalah dokter yang sanggup membangun hubungan bersifat humanistic antara dirinya dengan pasien. Bagaimana hal itu dapat terjadi?
Apabila hubungan kemanusiaan dapat dibangun dengan baik otomatis akan hadir perasaan senang di hati pasien maka pelayanan,konsultasi dan pengobatan juga akan diterima dengan baik oleh pasien karena merasa haknya sebagai manusia dengan hasrat ingin diperlakukan dengan sebaik-baiknya terpenuhi. Maka poin “memperlakukan pasien sebagaimana ia ingin diperlakukan” sangat pantas dicantumkan dalam kode etik kedokteran Indonesia.
Di samping itu perlu adanya penekanan bahwa tidak ada satupun profesi yang kebal terhadap hokum. Maka sudah sepantasnya seorang dokter menanamkan kokoh dalam dirinya akan sikap tanggung jawab. Tanggung jawab akan pasien yang ia tangani. Dan tanggung jawab ketika ada kesalahan yang terjadi selama ia menjalankan profesinya. Jadi sangat tidak perlu merasa dokter adalah penyembuh bagi manuia yang sakit jadi dokter patut diagungkan dan disandingkan dengan dewa.
Berdasarkan sejumlah fakta tersebut, hal yang mendesak adalah penekanan aspek humanistik dalam pendidikan kedokteran sangat mendesak untuk ditekankan. Selama ini, barangkali, yang tertanam di benak peserta pendidikan profesi tersebut adalah sejumlah uang yang akan masuk ke kantongnya setelah mejadi dokter. Tujuan itu memang tidak salah, namun jika profesi yang bersentuhan dengan manusia itu tidak memperhatikan aspek humanistik, praktek-praktik non humanis yang bisa menyebabkan kerugian untuk sekian banyak pihak akan terus berlangsung.
Lalu,mencoba berkaca pada kedokteran di Indonesia,apakah system pelayanan kedokteran di Indonesia dapat dikatakan cukup humanis?
Dalam pandangan saya, dokter humanis bukanlah dokter ideal yang memiliki sifat-sifat keTuhanan. Dokter yang humanis adalah dokter yang menempatkan dan memperlakukan dirinya sebagai manusia, yang memiliki keahlian di bidang kedokteran, dan mampu memanusiakan pasiennya dalam setiap hubungan dokter dan pasien. 
Dokter yang humanis mampu menempatkan dirinya sebagai sahabat bagi pasiennya. Dokter tersebut menyadari bahwa ilmu yang dimilikinya tidak bisa menyembuhkan semua pasien walaupun dengan kondisi penyakit yang sama, oleh karena setiap tubuh  pasien memiliki keunikan tersendiri dalam merespon penyakitnya. Dokter yang humanis harus menjunjung tinggi etika kedokteran dan nilai-nilai luhur profesi kedokteran dalam setiap aktivitas kesehariannya, baik saat berpraktik maupun tidak.
Oleh sebab itu, perlu segera penekanan nilai-nilai humanistik agar pendekatan seorang dokter kepada pasiennya dapat berjalan berdasarkan prosedur,sesuai dengan sumpah dokter dan atas ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.