Sebuah film
yang penuh akan intrik dan konflik yang begitu sukses mengoyak emosi
penonton,sarat akan nilai-nilai kemanusiaan serta kaidah-kaidah pokok dalam
ilmu kedokteran khususnya kode etik kedokteran dan hal-hal yang berkhaitan dengannya serta
patut untuk diamati,dipetik,dipelajari dan diterapkan,ya 7 hati 7 cinta 7
wanita.
Film yang
kental akan perspektif etik,profesionalisme serta humanistic ini memuat kisah
tentang sepenggal perjalanan hidup tiga orang dokter spesialis kandungan dengan
latar belakang dan karakter yang berbeda-beda. Dokter Anton,seorang dokter
spesialis kandungan yang sudah senior di RSUP Fatmawati tetap setia dan cinta
akan profesinya yang telah ia geluti selama berpuluh-puluh tahun. Dibalik
kulitnya yang keriput dan karakter yang penuh canda,ia tetap teguh menyimpan
nama seseorang di dalam hatinya. Ya,dokter Kartini. Teman sejawatnya di
tempatnya bekerja pula. Dokter Kartini,dokter yang menjunjung tinggi kode etik
kedokteran. Dokter yang tidak pernah kehilangan citranya di mata pasiennya.
Dokter yang tidak hanya mampu menangani dengan baik masalah-masalah medis
dengan baik tapi juga seorang dokter yang mampu merangkap sebagian konsultan
masalah-masalah pribadi yang dialami pasiennya. Saking larutnya dalam maaslah
yang dihadapi pasiennya,ia masih tetap bertahan menyimpan maslah yang sampai
saat ini entah dimana jalan keluarnya bahkan terlihat begitu menikmati
kesendiriannya.
Berbeda
dengan dokter Kartini,seorang spesialis obstetric dan ginekologi muda bernama
dokter Rohana yang merupakan dokter baru di rumah sakit tersebut begitu
menikmati masa mudantya dengan memandang segala hal yang terjadi dari sisi
positif. Ia begitu terbuka dengan orang-orang di sekitarnya. Namun tidak semua
orang bisa perpendapat begitu,karena bagi teman sejawatnya sendiri yang lebih
senior yaitu dokter Kartini,sikap dan jiwa muda yang dimiliki oleh dokter
Rohana hanyalah merupakan identitasnya aeorang pemuda yang identik dengan
labil. Bahkan dokter Kartini merasa sikap dokter Rohana yang terlalu terbuka
serta rasa ingin tahu yang tinggi dapat dengan mudah menyentuh emosi orang
lain.
Dengan
memandang menggunakan perspektif etik, profesionalisme, humanistic serta
interaksi dokter disini maka dapat dengan mudah dipetik pelajaran-pelajaran
tentang etika kedokteran yang berlaku dan membandingkannya dengan hal-hal yang
mengancam hilangnya penerapan kode etik kedokteran dalam praktek ilmu
kedokteran.
Dokter
Anton yang telah berpuluh-puluh tahun menjalani profesinya sebagai seorang
dokter kali ini dihadapkan dengan seorang ayah yang membawa putrinya yang
tengah hamil tujuh bulan dan meminta dokter Anton untuk membantu persalinan
dengan jalan sectio cessaria pada
waktu yang diinginkannya karena menurut budaya dan kepercayaannya waktu yang
dipilihkannya dapat membawa keberuntungan dan kebaikan baginya dan keluarganya.
Yang dilakukan oleh dokter Anton adalah dengan tegas menolak permohonan
keluarga pasien karena berpegang pada ilmu kedokteran yang telah dipelajarinya,waktu
persalinan tidak pas dan dapat mengancam bayi maupun sang ibu itu sendiri.
Dilema dialami oleh dokter Anton dengan jelas. Antara aspek etik,apakah cukup
etis menolak permintaan pasien yang menginginkan tindakan medis dengan sikap profesinalisme yang berpatokan
pada ilmu kedokteran.
Hal berbeda
ditunjukkan oleh rekan sejawatnya,dokter Kartini ketika ayah tersebut akhirnya
berpindah dokter karena merasa dokter Anton tidak dapat menyanggupi
permintaannya. Ayah dan anak tersebut menemui dokter Kartini dnegan mengajukan
hal yang sama,dan yang dilakukan dokter Kartini adalah dengan halus menyanggupi
permintaan keluarga pasien untuk melakukan section cessaria sesuai dengan waktu
yang diinginkannya. Hal tersebut membawa efek tersendiri bagi keluarga pasien.
Keluarga pasien merasa senang konsultasi yang dilakukannya dengan dokter
KArtini karena keinginannya dapat terpenuhi. Akan tetapi tidak berhenti disitu
karena dokter Kartini mencoba menjelaskan konsekuensi apa yang akan ditanggung
apabila dilakukan tindakan medis sesuai dengan permintaan pasien. Disini dokter
Kartini menunjukkan kepiawaiannya untuk menyeimbangkan aspek etis yang
seharusnya dimiliki oleh seorang dokter berjalan berbarengan dengan sikap
profesionalisme yang patut melekat erat
dalam diri masing-masing dokter selama menjalankan profesinya.
Tetapi yang
terjadi adalah keluarga pasien tetap ngotot mempertahankan pemilihan waktu yang
ia inginkan karena mempunyai kepercayaan yang begitu kuat bahwa hal yang
dikhawatirkan akanterjadi,sebaliknya apabila tindakan medis dapat dilakukan
sesuai dnegan keinginannya maka aka nada kebaikan dan keberuntungan yang mereka
peroleh. Di tengah perdebatan tersebut,tiba-tiba dokter Rohana muncul menengahi
masalah tersebut dengan kesanggupan melaksanakan tindakan medis seprti yang
diminta oleh keluarga pasien tanpa penjelasan dan persetujuan dari dokter
Kartini. Hal yang sangat tidak etis ditunjukkan oleh dokter muda ini. Dari sisi
hubungan kesejawatan ia dengan jelas melangkahi kode etik kedokteran tentang
kewajiban seorang dokter terhadap teman sejawat. Yang mana hal yang seharusnya
dilakukan oleh seorang dokter untuk memenuhi kewajibannya terhadap teman
sejawatnya adalah memperlakukan teman sejawat sebagaimana ia ingin dilakukan.
Poin selanjutnya tentang kewajiban itu adalah tidak mengambil alih pasien,yang
jelas-jelas dilanggar oleh dokter Rohana. Seharusnya dengan penuh etis,dokter
Rohana memberikan penjelasan terlebih
dahulu kepada pasien dan juga meminta persetujuan dan konfirmasi kepada dokter
Kartini,yang mana secara legal pasien tersebut adalah pasien dokter Kartini.
Dokter
Kartini begitu piawainya menunjukkan penerapan hubungan kesejwatan yang baik.
Tidak hanya satu poin tersebut dokter Kartini manjadi unggul oleh aspek etik
dan profesionalisme yang melekat pada dirinya. Poin plus dimilki pula oleh
dokter ini ketika dengan karakternya,ia mengajarkan sisi humanistiknya saat
menghadapi begitu banyaknya pasien dari latar belakang yang berbeda-beda.
Nyonya Lili seorang ibu
hamil datang berkonsultasi kepada dokter Kartini dengan masalah kekerasan
seksual yang mengekor di belakangnya. Diperhadapkan dengan kasus yang seperti
itu,dokter Kartini tidak hanya membantu pasiennya dalam hal medis tapi dokter
Kartini seolah turut larut dalam masalah yang dialami pasiennya. Bahkan dengan
tulusnya ia ingin membantu menyelesaikan masalah pasiennya dengan melaporkan
kasus tersebut ke pihak yang berwajib karena baginya telah dengan jelas
tejadinya pelanggaran hukum akan tetapi hal tersebut tidak tejadi karena Nyonya
Lili tidak menginginkan maslahnya terbawa ke rana hukum karena cintanya pada
suaminya. Dan dokter Kartini tetap menghargai privasi dan menjaga rahasia
pasiennya.
Sisi
humanistic kembali dokter Kartini tunjukkan saat mendapat pasien seorang
pekerja seks komersial yang ia diagnose menderita penyakit kanker cerviks. Ia
tidak membedakan perlakuannya kepada wanita yang dianggap sampah masyarakat
oleh sebagian orang. Ia tetap menjaga interaksinya dengan pasien tersebut
walaupun tingkah pasien yang jauh dari kesopanan dan menunjukkan ketidak
berpendidikannya. Bahkan ia juga dapat menangani dengan baik ketika seorang
siswi SMP yang hamil di luar nikah bernama Rara menjadi pasiennya. Dengan cara
berinteraksi yang sepadan dengan cara komunikasi Rara yang kekanak-kanakan,ia
tidak kehilangan kendali atas kode etik kedokteran yang dijunjung tinggi. Namun
celah lain ditemukan dalam pelayanan saat Rara berkunjung ke rumah sakit
tersebut. Yang mana pelayan perawat/tenaga medis yang bertugas saat itu
melenceng jauh dari etika karena yang ditunjukkan adalah kata-kata tidak sopan
yang seharusnya tidak perlu ditujukan kepada Rara.
Dokter
Kartini juga tidak kalah sabarnya dengan pasiennya yang telah lama menunggu
kehamilan. Dengan telaten dan senyum penuh makna,ia selalu memberikan penjelasan
kepada pasangan suami istri yang tengah mencanangkan program kehamilan ini.
Penjelasan ia paparkan dengan sederhana dan dengan mudah dimengerti oleh
pasiennya untuk dilaksanakan. Ia bahkan sanggup menjadi seorang teman yang bagi
pasiennya,Ratna seorang pekerja tekstil. Banyak hal dan masalah pribadi yang
diketahui oleh dokter Kartini. Bahkan tidak jarang mereka menyempatkan waktunya
untuk berbagi cerita seusai konsultan atau hubungan antara pasien dan dokter
terjadi. Hubungan yang tadinya hanya sebatas pasien dan dokter dapat disulap
oleh dokter Kartini menjadi hubungan yang akrab seperti teman dan kerabat.
Banyak karakter yang ditunjukkan dalam film ini. Banyak hal yang
dipertontonkan dalam drama ini. Namun,hal yang patut untuk dipetik,dipelajari
dan diterapkan adalah bagaimana aspek etis,profesionalisme,interaksi dan
humanistic dijalankan oleh seorang dokter bukan sebagai tuntutan melainkan
isyarat dari kata hati. Karena bioetik bukan sekedar meneruskan kebiasaan pendahulu, bukan sekedar pengetahuan
dan keterampilan, bukan sekedar sikap, bukan sekedar memenuhi syarat akan
tetapi Landasan moral dalam menentukan keputusan, sikap, perilaku dan tindakan
untuk kebaikan, bukan hanya untuk pasien
tetapi juga untuk makhluk hidup dan
alam sekitarnya, sekarang dan yang akan datang.